Blog One
Asap Riau
  • MR Zufama
Posted by : Ferdi Ferdian Senin, 21 April 2014

Aku bersyukur buat Allah SWT … 

bahwa ketika aku dilahirkan, Allah berkehendak untuk ketika itu, saat yang sama dimana aku terlahir ketika itu pula ibuku meninggalkanku untuk selamanya hingga boleh dikatakan waktu tanggal saat aku dilahirkan adalah waktu / tanggal yang sama juga saat Ibu harus pergi menghadap Allah untuk selamanya.

Ibu…
walau kini kita tak bersama sejak pertama ibu menghadirkan aku… aku tidak pernah kehilangan kasih… aku tetap memiliki kelembutan dari dalam hati dan diri ini… karena aku dilahirkan oleh ibu… yang memiliki KASIH YANG ABADI dalam diri Ibu.. Sebuah Anugrah Abadi dari Tuhan. Ibu.. Aku rindu dan kangen sama Ibu walau sejak awal tidak pernah aku melihat bayanganmu apalagi wajahmu… Kalaulah boleh aku meminta jangankan wajah.. walau hanya sebatas bayanganmu aku ingin melihatmu ada….. walau hanya sedetik ada dan berdiri di depanku.
Ada kerinduan amat sangat selama ini untuk merasakan kasih sayangnya belaian tangan lembutnya sama seperti aku melihat orang lain begitu hangat, nyaman, damai bahagia dalam pelukan ibu tercinta… bahkan aku melihat saat dewasa pun mereka begitu akrab di saat yang lain wujud keakraban itu dapat kulihat ketika sang ibu menyuapi anaknya yang sudah dewasa… terbayang betapa bahagianya, terlukis sebuah rasa bahagia yang sulit untuk diungkapkan.



Namun.. kuasa Tuhan, Anugrah Tuhan, memang tidak akan pernah bisa dibayangkan,  tidak dapat terpikirkan keadilan yang luar biasa Tuhan nyatakan dalam kehidupan… Aku memiliki keluarga / orang tua, ibu yang begitu sayang, begitu luar biasa perhatiannya buatku sungguh sebuah wujud kasih yang tidak akan pernah mampu terbalaskan walau dengan apapun.
Kisah derita hidupku memang bukanlah sebuah karangan bukan juga hanya suatu bualan,  hidupku yang tak sendiri selalu bertemankan dengan kesendirian
Kini saat usiaku 8 tahun Ayahku pergi menyusul ibu
Namun tak juga pernah membuatku putus harapan. Ku 'kan terus berdiri tegak menantang kerasnya jaman. Liku hidupku yang penuh pilu dan tak menentu, Merupakan sebuah kenyataan yang terlalu mengharu biru sebuah perjuangan yang 'kan ku kenang selalu, Inilah hidupku yang tak berAyah dan tak berIbu yang mereka sebut aku “Anak Yatim Piatu”
Sungguh kenyataan yang teramat pahit,
Sungguh keadaan yang begitu sulit,
Rintihan batinku yang menjerit sakit menjangkit,
Di saat mereka bilang masa depanku sempit,
Namun, di hati kecilku slalu terbesit kata semangat untuk terus bangkit,
Sepi, sunyi, senyap adalah kata yang selalu akrab menemani,
Tiada lagi canda tawa riang gembira bernyanyi,
Kebahagian semakin jauh pergi, dan kini kesedihan datang menghampiri,
Terkadang dibenak hati ingin sekali mengakhiri hidup yang tak berarti ini,
Ayah dan Ibu, aku bertanya-tanya mengapa petaka ini harus terjadi?
Di kala mereka semua bahagia,
Di tengah kehangatan sang Ayah dan Ibundanya,
Mataku menatap penuh rasa iri,hati meratapi dan rasa merana,
Tiada hentinya kelopak ini menitikkan peluh air mata penuh rasa terluka,
Tak ada lagi yang kan menghiburku di kala duka,
Sedih kurasa, tawa dulu saat kita bersama, kini tinggal suara tangisku lirih,
Meski dalam kepedihan tapi ku tetap melangkah walau tertatih,
Hatiku semakin perih di kala mereka menatapku seolah risih,
Tak tahukah mereka, perlakuannya membuat nuraniku semakin merintih?
Hanya kepada-Mu lah aku bisa pasrah dan berdalih,
Kebahagiaan mereka semua seolah hilir mudik menyindir,
Kapankah sosok penuh kasih sayang kalian itu kembali hadir,
Ayah dan Ibu, namamu kini bagiku hanya mengalir seperti sebuah lantunan syair,
Kepergian kalian seakan menjadi hal yang masih tertutup takdir,
Mengapa ? Kini aku bertanya-tanya penuh sesal mengapa harus terlahir, MENGAPA?
Mereka selalu bilang, aku adalah anak yang berlawanan dari kata beruntung,
Hidup bagaikan di dalam sangkar terkurung,
Ku hanya bisa duduk termenung merenung,
Selalu ku rindukan kalian di belakangku membimbing dan mendukung,
Dan meyakinkanku dari rasa bimbang serta bingung,
Ku sangat menginginkan sikap ketegasan dan kepemimpinan dari seorang Ayah,
Kini, hidupku terasa tiada arah,
Jiwaku selalu mendesah penuh rasa resah gelisah,
Bila amarah mengambil alih sudah,
Aku pun tak tau kemana harus berserah,
Ku sangat merindukan kasih dan sayangmu, Ibu,
Tak pernahku lihat raut wajahmu,
Sifatmu yang ramah, anggun serta lugu,
Semua itu kini hanya mimpi seolah musnah hilang tak berbau,
Kadang malam ku hanya bisa menangis tersedu-sedu teringat olehmu,
Aku selalu berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi,
Mimpi buruk yang kan segera hilang menepi,
Tapi, tak kusangka sekarang kenyataan ini hanya bisa kuratapi,
Ku jalani hidupku kini sendiri disini dalam sepi,
Aku terus berpikir dan mencoba berhenti menyesal dan mengusap tiap air mata di pipi,
Ayah dan Ibu, kini kalian telah pergi jauh,
Sebuah keluarga yang kudamba rasanya kini seakan tidak lagi utuh,
Walaupun nanti aku telah tersungkur jatuh,
Sekarang aku hanya bisa berjanji tak 'kan lagi mengeluh,
Untuk menggenggam masa depan secara penuh,
Yatim Piatu, bagi kalian mungkin kata yang seram,
Tapi janganlah kau anggap kami ini anak haram,
Yang masa depannya tervonis suram,
Aku tak 'kan mau hanya terdiam dalam pekatnya malam,
'Ku kan berdiri dan terus berlari menuju temaram,
Wahai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang,
Bebaskanlah hidupku dari penyesalan yang membayang,
Mudahkanlah aku menjalani hidup yang kian menantang,
Kini ku ikhlaskan sudah orang tuaku berpulang,
Semoga mereka berdua beristirahat dengan tenang,
Mungkin kami tanpa ayah, tanpa ibu, atau bahkan tanpa orang tua,
Tapi kami juga manusia, yang ingin dihargai serta hidup merdeka,
Ayo kawanku, Yatim Piatu bukalah akhir segalanya, tetap jaga solidaritas dan jalin satu rasa,
Kepedulian, Kebersamaan kita adalah awal menuju akhir yang bahagia,
Tidak usah minder ataupun rendah diri kita semua sama, semoga bisa menjadi pribadi-pribadi yang mulia.
NOTE: kalian di berikan orang tua janganlah di cela,
karna di sini banyak yang berharap sosok mereka berdua,
termasuk saya.

Leave a Reply

Anda boleh menyebarluaskan atau mengcopy artikel ini jika memang bermanfaat bagi anda atau teman-teman anda,namun jangan lupa untuk mencantumkan link sumbernya.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

HOME
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Terima Kasih

Label

  • 125x125 Ads1
  • ©2008 - 2013 ZrdErdi.RIAU - Design by Tazwa Q Ferdian - Original by Djogzs

    close